pagi hari reina sudah disibukan dengan aktivitasnya mengurus si kembar. meskipun ada mbak sus, sebisa mungkin reina mengurus keperluan si kembar sendirian "Mumpung masih di rumah" katanya. Memandikan si kembar, menyuapinya, dan hari ini tidak sempat ajak jalan-jalan si kembar, karena Reina harus datang ke Kantor Design untuk interview.
Pukul menunjukan waktu 07:30 wib, sedangkan interview pada pukul 08:30wib, "masih ada waktu" pikir Reina.
"Mbak sus, saya berangkat buat interview, jaga anak-anak ya".
"Iya bu, semoga berhasil ya buu."
"terimakasih mbak sus".
sebelum berangkat Reina menyempatkan diri untuk berpamitan dengan anak-anaknya. seraya berkata "Mama berangkat interview ya nak, do'akan mama berhasil", sambil mencium kedua anaknya yang kebetulan sudah terlelap tidur setelah diberi sarapan.
Reina bergegas meninggalkan rumahnya, dan menaiki angkutan umum untuk sampai ke tempat calon kerjaannya. (semoga berhasil Reina).
Waktu menunjukan pukul 08:10 wib "belum terlambat" pikir Reina sambil memandangi jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.
sebelum masuk ke gedung, Reina menyempatkan diri untuk merapikan penampilannya hari ini. kemeja berumbai atas berwana peach, celana dasar panjang hitam, falt soes hitam dan tak ketinggalan hijab berwarna senada dengan kemeja yang dikenakannya, selalu menuntup indah rambut ikalnya.
setelah memastikan penampilannya rapi, Reina masuk kedalam gedung dan tak lupa merapalkan do'a kesuksesannya "amin".
saat memasuki pintu utama Reina sudah ditunggu oleh mbak resepsionis yang berdiri di depan meja kerjanyya, seolah begitu. karena kebetulan mbaknya lagi berdiri dan mejanya pas depan pintu utama. baru saja mbaknya mau duduk, mbak nya berdiri lagi dan tersenyum kepada Reina. "mbak mau interview kan, ke arah sana mbak, ntr masuk lift dan langsung ke lantai 15". Reina takjup "handal sekali mbak ini bisa tau, jangan-jangan dukun" batinnya. karena tidak mau mengandai-andai, akhirnya Reina bersuara "iya mbak, wah mbak hebat bisa tau saya mau interview". katanya percaya diri. "bukan begitu mbak, (hehehe). saya emang belum lupa sama mbak, tapi hari ini semua staf di liburkan,dan hari ini khusus untuk interview saja". Reina takjup lagi,, alangkah percaya diri dia "ternyata emang jadwal interview" . karena meresa tidak enak dan sedikit malu akhirnya Reina hanya tersenyum dan berkata "maaf ya mbak, makasih atas arahannya".. dan mbak resepsionis berkata sambil tersenyum "iya mbak.. sama-sama".
"lantai 15... lantai 15.. lantai 15". Reina tidak lelah untuk mengulang-ulang lantai berapa yang dia tuju. karena salah lantai akan salah pula ruangnya. (efek gugup kalik ya).
Memasuki lift yang dimaksud, Reina langsung menekan tombol 15 pada lift. "1...2..3..8..9...10..11..12.. 13..14..15.. Ting". pintu lift terbuka, Reina keluar dari lift. belum-belum Reina sudah dilanda gegana (gelisah, galau, karena mau wawancara). sambil meremas-remas tangannya, matanya mencari pintu yang bertuliskan "Interview Room". Tepat di arah bagian kanan didepan lift ada ruangan yang bertuliskan "Interview Room" dan di depan ruangannya sudah banyak para peserta interview yang sama seperti Reina, sekitar 7 orang. "wah banyaknya, apa aku bisa keterima, sepertinya mereka sudah handal semua" pikiran Reina sudah berjalan-jalan jauh, tentunya yang iya-iya bakal terjadi.
Reina masih setia berdiri di depan lift melihat pemandangan yang menarikalam bawah sadarnya untuk melamun. Tiba-tiba dentingan lift berbunyi "Ting". tepat saat pintu lift terbuka terdengar langkah kaki dari belakang tubuh Reina, dan.... "Aw..." .."Brukkk".. jeritan dan dentuman barang jatuh bersautan karena ternyata ada orang yang membawa banyak barang tidak melihat keberadaan Reina dan juga Reina tidak menyadari dia sedang berada depan lift. Seketika semua mata tertuju pada asal sumber suara.
"Mbak.. maaf saya ga tau kalau ada orang depan lift" orang yang menabrak reina mengulurkan tangan karena merasa bersalah pada Reina. Tapi Reina masih setia menundukan kepala dan tentu saja malu tanpa melihat orang-orang. tidak mendapat sautan dari Reina mas-masnya khawatir kalau Reina pingsan atau syock, jantungan "oh... jangan sampek nih mbak struk gara-gara gue" batin masnya. karena tidak enak hati akhirnya Reina membuka suara, tapi masih dalam pose tetap "ya gpp, salah saya juga ga minggir dari lift itu". masih dalam keadaan tidak enak, mas nya memberikan pertolongan pada Reina "Mari mbak, saya bantu berdiri". agar tidak tambah malu Reina bangkit sendiri dari jatuh nya, sambil berkata "iya, gpp saya bisa sendiri, tidak usah repot-repot".akhirnya Reina bangkit sendiri dan meninggalkan lelaki yang telah menabraknya tampa melihat wajahnya.
"bukannya itu tadi Reina ya". orang yang menabrak Reina ternyata Bagus teman sekampus Reina dulu. Bagus sempat menyukai Reina dan sempat juga mengutarakan rasa sukanya, namun di tolak secara halus oleh Reina karena Reina sudah dilamar oleh seorang Lelaki. "ya sudahlah kalo emang betul itu si Rei, syukur deh gue bisa satu kantor sama dia" batinnya. senyum penuh arti terukir di wajah Bagus, dan Bagus bergegas merapikan bawaannya yang berserakan dan kembali keruangannya karena banyak Kerjaan yang menantinya.
"aduhh,, malunya aku. mana di lihatin lagi". sejak insiden yang terjadi belum lama ini di depan lift tidak membuat para peserta interview tutup mata. mereka memandanga Reina sekilas dan buang muka, ada juga yang memperhatikan penampilan Reina dari ujung hijab sampai ujung sepatunya, ada juga yang diam saja tanpa memperhatikan, hal itu semakin membuat Reina terintimidasi. namun hal itu terbantahkan dengan seruan seseorang yang mengintrupsi Reina. "Mbak.. gugup ya sampe diem aja depan lift dan gabruk gitu. hehehe". Reina sedikit tenang atas pernyataan si mbak yang belum diketahui namannya. belum sempat Reina menjawab pertanyaan si mbak, udah diberondong duluan sama peryataan lagi. "Nama ku syakira, aku juga gugup sih mbak, cuman yah .. yaudah lah". Reina senyum, dan menjawab pertanyaan syakira yang belum sempat dia jawab. "Iya, saya gugup. ini pertama kalinya saya daftar kerja" dan tidak lupa senyum canggung ditampilkan. ternyata tidak salah berekspresi seperti tadi alhasil sekarang para peserta yang tadinya mengintimidasi sekarang tersenyum meberi semangat pada Renia. "Syukur lah" batin Reina.
"Perhatian peserta interview selanjutnya Syakira anjani segera bersiap" interfon dari dalam menginterupsi kalau Syakira peserta selanjutnya. itu artinya masih ada 6
peserta lagi sebelum Reina dipanggil. "mbak saya masuk ke dalam dulu ya" intrupsi Syakira membuyarkan lamunan Reina. "iya semangat, semoga berhasil" jawab Reina.
"Peserta selanjutnya... selanjutnya...selanjutnya.. dan selanjutnya.. sekarang tibalah waktu nya Reina" . interfon mengintrupsi "Reina putri sukoco silahkan masuk" , dengan pasti Reina memasuki ruang interview.dilihatnya sudah ada 4 orang interviewer yang telah menunggu di sana, ada 2 orang laki-laki serta 2 wanita. Satu kursi layaknya kursi tersangka pidana disiapkan disana, hanya ada satu dan tidak ada yang lain.
Reina langsung duduk di kursi yang telah disediakan setelah disuruh duduk oleh salah satu interviewer.
"Perkenalkan diri anda". salah satu interviewer mengintrupsi. mengambil nafas dan membuang secara perlahan, Reina mulai memperkenalkan diri dengan lantang."Nama saya Reina putri sukoco, usia 23 tahun, pendidikan terakhir saya S1 Desain, dan sekarang saya tinggal dengan kedua anak saya, saya seorang janda, pengalaman saya di dunia desain belum sampai bekerja di perusahaan, namun saya sudah sering melakukan job desain secara online dari mulai semenjak saya kuliah dulu. Terimakasih". Selesai Reina memperkenalkan diri interviewer lainnya langsung bertanya ke pokok pekerjaan. "kami bergerak dibidang desain digital dan juga printing. tetapi kami sedang mengembangkan desain dalam bentuk advertising dan sebenarnya kami sedang mencari orang yang mampu dibidang itu. apakah anda bersedia, ini kan beda dengan bidang anda kalau saya lihat diportofolio anda". Reina menjawab "saya bersedia ditempatkan dimana saja, jika masih berhubungan dengan desain saya tidak keberatan pak". Antara butuh kerjaan dan emang butuh banget, gimana pun caranya Reina harus dapetin kerjaan ini. "kamu bilang kamu punya anak, apa kamu tidak keberatan kalau harus meninggalkan anak mu untuk urusan pekerjaan, mungkin saja lembur atau keluar kota bisa jadi. bagaimana?". meninggalkan anak emang sulit bagi Reina "tapi asal tidak lama sepertinya tidak apa-apa, kalaupun ada uang lebih anak bisa dibawakan, lagian ada mbak sus yang bisa jagain" batin Reina. "saya tidak keberatan pak, dan saya akan perfesional. kebetulan saya ada pengasuh anak-anak dirumah, dan anak-anak bukan penghalang kerjaan saya, bahkan mereka adalah semangat saya untuk bekerja". Jawaban Reina menyentuh sekali, bahkan interviewer satu lagi tidak memberikan komentar ataupun tanggapan. namun apakah sikap tersebut akan meberikan pernyataan bahwa Reina diterima kerja disini.
"Baik.. menurut kami sudah cukup, anda menjawab pertanyaan kami dengan jelas, dan portofolio, cv serta berkas pendukung lainnya sudah cukup lengkap dan jelas menurut kami. jadi aktifkan hp, email atau apa saja yang bisa dihubungi. nanti bagaimana keputusannya tim kami akan menghubungi anda."
Singkat!! memang. Reina takjub, memang jawaban dia yang cukup jelas atau malah acak kadut ga karuan. "Ah sudahlah, semoga hasil yang diberikan adalah yang terbaik" batin Reina. Sebelum beranjak dari kursi, tidak lupa Reina mengucapkan Terimakasih dan salam. "Terimakasih atas waktu yang telah diberikan, saya permisi dulu pak. buk". Reina bergegas meninggalkan ruangan interview.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar